Sunday, 28 December 2014

Komponen Resiko Audit




Komponen risiko audit, pada umumya terdiri atas tiga, yaitu:

  1. Risiko bawaan (inherent risk)
  2. Risiko pengendalian (control risk)
  3. Risiko deteksi (detection risk)
Risiko Bawaan

    Risiko bawaan adalah kerentanan suatu asersi terhadap salah saji material dengan asumsi tidak ada kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait. Risiko bawaan selalu ada dan tidak oernah mencapai angka nol. Risiko bawaan tidak dapat dirubah oleh penerapan prosedur audit yang paling baik sekalipun. Risiko bawaan bervariasi untuk setiap asersi. Sebagai contoh, asersi keberadaan dan keterjadian kas mempunyai risiko bawaan yang lebih tinggi daripada aktiva tetap. Hal inji disebabkan uang tunai merupakan suatu asset yang sangat rawan terhadap manipulasi, dan semua orang berminat terhadap uang. Sedangkan aktiva tetap lebih jelas keberadaannya. Risiko bawaan juga dibedakan atas risiko bawaan setiap akun dan risiko bawaan keseluruhan untuk banyak akun. Berikut merupakan beberapa factor yang menentukan risiko bawaan pada banyak akun:

  1. Profitabilitas perusahaan secara relative dibandingkan dengan perusahaan pada umumnya. Semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan, semakin kecil risiko bawaannya.
  2. Jenis usaha dan sensitivitas operasi. Perusahaan yagn bergerak pada bidang keuangan lebih besar risiko bawaannya daripada perusahaan ekspedisi karena bidang keuangan sangat sensitive terhadap perubahan kurs mata uang, dan perubahan tingkat suku bunga. Oleh karena itu, semakin sensitive operasi perusahaan, semakin tinggi risiko bawaannya. Bidang usaha yang sangat dipengaruhi perkembangan teknologi, dan kompetiwsi usahanya ketat, mengakibatkan risiko bawaan yang tinggi.
  3. Masalah kelangsungan usaha. Perusahaan yang sedang mengalami masalah kebangkrutan mempunyai risiko bawaan yang tinggi.
  4. Sifat, penyebab, dan jumlah salah saji yang dideteksi dalam audit tahun sebelumnya. Risiko bawaan perusahaan akan dinilai lebih tinggi apabila banyak salah saji yang terdeteksi melalui audit tahun sebelumnya.
  5. Integritas, erputasi, dan pengetahuan akuntansi dari manajemen. Semakin baik integritas, reputasi, dan pengetahuan tentang akuntansi yang dimiliki manajemen klien, semakin kecil risiko bawannya.
Berikut ini merupakan factor yang menentukan risiko bawaan suatu akun tertentu:
  1. Auditabilitas akun atau transaksi. Semakin tinggi tingkat aktivitas akun, semakin rendah risiko bawaan pada akun tersebut.
  2. Kerumitan masalah akuntansi terkait. Masalah akuntansi terkait meliputi masalah pengekuan dan kerumitan penilaian akun. Masalah akuntansi yang rumit akan meningkatkan risiko audit.
  3. Sifat, penyebab, dan jumlah salah saji yang dideteksi dalam audit tahun sebelumnya. Risiko bawaan perusahaan akan dinilai lebih tinggi apabila banyak salah saji yang terdeteksi melalui audit tahun sebelumnya.


Risiko Pengendalian
    Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material, yang dapat terjadi dalam suatu asersi, tidak dapat dideteksi ataupun dicegah secara tepat pada waktunya oleh berbagai kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern perusahaan. Risiko pengendalian tidak pernah mencapai keyakinan penuh bahwa semua salah saji material akan dapat dideteksi ataupun dicegah. Risiko pengendalian merupakan fungsi dari efektivitas struktur pengendalian inter. Semakin efektif struktur pengendalian intern perusahaan klien, semakin kecil risiko pengendaliannya. Penetapan risiko pengendalian didasarkan atas kecukupan bukti audit yang menyatakan bahwa struktur pengendalian inter klien adalah efektif.

    Ada dua macam risiko pengendalian, yaitu:
  1. Actual level of control risk
  2. Assessed level of control risk yang ditentukan dengan melakukan modifikasi prosedur untuk menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern terkait dengan asersi, dan prosedur untuk melaksanakan test of control.

Pada saat perencanaan audit, auditor menentukan besarnya risiko pengendalian yang direncanakan untuk setiap asersi yang signifikan. Planned assessed level of control risk ini ditentukan berdasar asumsi tentang efektivitas rancangan dan operasi struktur pengendalian intern yang relevan.



Risiko Deteksi

    Risiko deteksi merupakan risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi tergantung atas penerapan auditor terhadap risiko audit, risiko bawaan dan risiko pengendalian. Semakin besar risiko audit, semakin besar pula risiko deteksi. Sebaliknya semakin besar risiko bawaan ataupu risiko pengendalian, semakin kecil risiko deteksi. Pada tahap perencanaan audit, Planned assessed level of detection risk untuk setiap asersi signifikan ditentukan dengan cara menerapkan model risiko audit. Actual level of detection risk dapat diubah auditor dengan cara memodifikasi sifdat, penentuan waktu dan luas test substantive yang dilakukan atas suatu asersi. Dalam penentuan risiko deteksi, auditor mempertimbangkan kemungkinan dia melakukan kesalahan seperti kesalahan penerapan prosedur auditing atasu salah melakukan interpretasi terhadap bukti –bukti audit yang telah dihimpun.

    Ada perbedaan yang mendasar antara risiko bawaan dan risiko pengendalian dengan risiko deteksi. Kedua risiko terdahulu ada terlepas dai dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit dan padat diubah oleh keputusan auditor sendiri.selanjutnya, risiko deteksi terbagi atas dua jenis risiko, yaitu risiko review analitis, dan risiko tes substantive.

Risiko review analitis

Risiko review analitis adalah risiko yang timbul karena prosedur-prosedur review analitis tidak dapat mendeteksi kesalahan yang material.

Risiko tes substantive.

Risiko tes substantive adalah risiko kesalahan material tidak dapat dideteksi melalui penggunaan prosedur tes substantive.

       Selain risiko-risiko diatas, risiko dalam audit dapat pula dibagi atas risiko sampling, dan risiko non sampling.jenis ini terjadi kaena auditor bekerja atas dasar pengujian suatu sampel bukti. Risiko sampling merupakan risiko bahwa kesimpulan yang diambil oleh auditor dari hasil pengujian terhadap karakteristik tertentu dari sampel atas item tertentu berbeda dengan kesimpulan yang dibuat dari seluruh populasi yang diuji. Sedangkan risiko non sampling merupakan bagian dari risiko audit yang tidak hanya berkaitan dengan data, tetapi lebih banyak dihasilkan dari factor lain seperti kesalahan manusia, kesalahan penerapan prosedur dan salah menginterpretasikan hasil suatu sampel.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI

  

*Tingkat diskonto yang digunakan
Tingkat diskontro merefleksikan tingkat keuntungan yang diperoleh dengan resiko tertentu. Dalam hal ini inflasi perlu diperhitungkan karena semakin tingi inflasi maka semakin rendah keuntungan masa datang.
* Resiko dan ketidakpastian
Semakin tinggi resiko maka tingkat keuntungan yang dipersyaratkan juga turut menanjak.

Resiko investasi suatu negara dibangun oleh:
  • Ketidakpastian ekonomi
  • Termasuk birokrasi yang buruk
  • Kekacauan sosial politik seperti
  • Perebutan kekuasaan
  • Pertumpahan darah dan Tetesan airmata
  • Kehancuran integritas bangsa
  • Rendahnya jaminan keamanan
  • Inkonsistensi kebijakan
* Capital rationing
Keadaan ketika suatu organisasi menghadapi masalah dana untuk melakukan pengeluaran investasi.

Faktor yang berkaitan untuk diperhatikan adalah:
1. Tingkat utang pemerintah
2. Tingkat kesempatan sosial yang dikorbankan. Artinya proyek pemerintah harus dapat menghasilkan keuntungan minimal sebesar keuntungan yang diperoleh sektor swasta dengan dana yg sama adanya.
3. Social time preference rate. Artinya, tingkat keuntungan yang disaratkan wujud oleh masyarakat jika menunda konsumsi sekarang untuk kepentingan konsumsi masa depan.
      Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa investasi adalah aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga dan royalti atau manfaat sosial sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam pelayanan kepada masyarakat,maka  pemerintah memiliki alasan dalam melakukan investasi:
a.       Memanfaatkan surplus anaggaran untuk memperoleh pendapatan jangka panjang.
b.      Memanfaatkan dana yang belum dugunakan unuk investasi jangka panjang.

Ø  Investasi dalam sektor publik dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Investasi jangka pendek,karakteristiknya:
·         Dapat segera diperjual belikan/dicairkan.
·       Investasi ditujukan dalam rangka manajemen khas yaitu pemerintah dapat menjual investasi apabila timbul kebutuhan khas
·         Berisiko rendah

Investasi yang digolongkan sebagai investasi jangka pendek meliputi:
·         Deposit berjangka waktu 3-12 bulan dan dapat diperpanjang secara otomatis
·         Pembelian surat utang Negara (SUN) pemerintah jangka pendek oleh pemerintah pusat maupun daerah dan pembelian SBI.
2.      Investasi jangka panjang,karaktristiknya meliputi:
o   Investasi tersebut tidak dimaksudkan untuk dicairkan dalam jamgka pendek
o   Surat berharga tersebut ditujukan untuk mengendalikan suatu badan usaha.
o   Dapat dibeli pemerintah untuk menjaga hubungan baik dengan pihak lain
Investasi jangka panjang ini dibagi 2 menurut sifatnya;
  a. Permanen,yaitu investasi yang dimaksudkan untuk memiliki berkelanjutan dan dimaksudakn untuk mendapatkan deviden
Investasi permanen dapat berupa:
    *Pernyataan pemerintah pada perusahaan negara/daerah,yang bukan milik negara dan dapat berupa saham dan bukan saham.
  *Investasi permanen lainnya dilakukan untuk menghasilkan pendapatan atau meningkatkan pelayanan masyarakat.
  *Investasi permanen lainnya dilakukan untuk menghaslikan pendapatan atau meningkatkan pelayanan masyarakat,misalnya investasi property.
    b.  Non permanen,yaitu investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan.
Investasi yang bersifat non permanen terdiri dari:
* Pembelian obligasi atau surat utang dimiliki sampai tanggal jatuh tempo
*Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat diahlikan.
*Dana yang disisihkan pemerintah untuk pelayanan masyarakat seperti bantuan modal pada kelompok             masyarakat.
*Investasi non permanen lainnya seperti modal penyehatan ekonomi.
Pengeluaran untuk investasi jangka pendek,diakui sebagai pengeluaran khas pemerintah dan tidak dilaporkan sebagi belanja dalam realiasai anggaran,sedangkan pengeluaran untuk investasi jangka panjang diakui sebagai pengeluaran pembiayaan.

TUJUAN AUDIT



Untuk masing-masing dari kelima kategori asersi laporan keuangan, Tabel 2 mencantumkan sejumlah akun-akun yang dipengaruhi oleh transaksi pembiayaan.

Kategori Asersi
Tujuan Audit atas Kelompok   Transaksi                              
               Tujuan Audit Saldo Akun
Keberadaan atau Keterjadian
Beban bunga yang dicatat dan transaksi laporan laba-rugi lainnya menyajikan pengaruh transaksi utang jangka panjang dan peristiwa yang terjadi selama periode berjalan (EO1)
Saldo utang jangka panjang yang dicatat merupakan utang yang ada pada tanggal neraca (EO2).
Saldo ekuitas pemegang saham merupakan hak pemilik yang ada pada tanggal neraca (EO3).
Kelengkapan
Semua transaksi beban bunga dan pendapatan lainnya yang berkaitan dengan utang jangka panjang yang terjadi selama periode berjalan telah dicatat (C1).
Saldo utang jangka panjang merupakan semua utang kepada kreditor jangka panjang pada tanggal neraca (C2).
Saldo ekuitas pemegang saham merupakan klaim pemilik atas aktiva entitas yang melaporkan (C3).
Hak dan Kewajiban
Semua saldo utang jangka panjang yang tercatat merupakan kewajiban entitas yang melaporkan (RO1).
Saldo ekuitas pemegang saham merupakan klaim pemilik atas aktiva entitas yang melaporkan (RO2).
Penilaian atau Alokasi
Transaksi beban bunga dan pendapatan lainnya yang berkaitan dengan utang jangka panjang telah dinilai dengan tepat sesuai GAAP (VA1).
Saldo utang jangka panjang (VA2) dan ekuitas pemegang saham (VA3) telah dinilai dengan tepat sesuai GAAP.
Penyajian dan Pengungkapan
Transaksi utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham telah diidentifikasi serta diklasifikasikan dengan tepat dalam laporan keuangan (PD1).
Saldo utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham telah diidentifikasi dan diklasifikasikan dengan tepat dalam laporan keuangan (PD2).
Semua syarat, ketentuan, komitmen, dan provisi terkait yang bersangkutan dengan utang jangka panjang telah diungkapkan secara memadai (PD3).
Semua fakta berkenaan dengan penerbitan saham seperti nilai pari atau nilai ditetapkan saham, saham yang diotorisasi dan diterbitkan, serta jumlah saham yang ditahan sebagai treasury stock atau terikat opsi telah diungkapkan (PD4).

PERTIMBANGAN PERENCANAAN AUDIT

Materialitas
Ekuitas pemegang saham jelas merupakan komponen neraca yang material. Pengaruh transaksi siklus pembiayaan terhadap laporan laba rugi juga sangat bervariasi dalam hal signifikansinya seperti juga pengaruh dividen terhadap laba ditahan.

      Risiko Inheren
Risiko salah saji dalam melaksanakan dan mencatat transaksi siklus pembiayaan biasanya rendah. Dalam banyak perusahaan, transaksi ini tidak sering terjadi, kecuali untuk pembayaran dividend an bunga, yang sering ditangani oleh agen-agen dari luar.

      Risiko Prosedur Analitis
Prosedur analitis ini memberikan indikator tentang kebutuhan entitas akan pembiayaan, kemampuannya, untuk melunasi utang, dan kelayakan biaya bunga (termasuk baik beban bunga maupun bunga yang dikapitalisasi).

      Risiko Pengendalian

Aplikabilitas komponen pengendalian internal untuk transaksi dan saldo siklus pembiayaan serupa dalam banyak hal dengan yang telah diuraikan sebelumnya untuk siklus investasi.

Proses Audit




Kertas kerja
Tanggal pelaksanaan
Pelaksanaan
Prosedur Audit Awal

1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun aktiva tetap yang akan diuji lebih lanjut
a. Usut saldo aktiva tetap yang tercantum dineraca ke saldo akun aktiva tetap yang bersangkutan dibuku besar
b. Hitung kembali saldo akun aktiva dibuku besar
c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun aktiva tetap dan akumulasi depresiasinya
d. Usut saldo awal akun aktiva tetap ke kertas kerja tahun lalu
e. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tetap dalam ke dalam jurnal yang bersangkutan
f.  Lakukan rekonsiliasi akun control aktiva tetap dalam buku besar ke buku pembantu aktiva tetap
Prosedur Analitik
2. Lakukan prosedur analitik
a. Hitung ratio berikut ini :
1) Tingkat perputaran aktiva tetap
2)  Ratio laba bersih dengan aktiva tetap
3)  Ratio tetap dengan modal saham
4)  Ratio biaya reparasi dan pemeliharaan dengan aktiva tetap
b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang didasarkan pada data masa lalu, data industri, jumlah yang dianggarkan, atau data lain

Kertas
kerja
Tanggal pelaksanaan
pelaksanaan
Pengujian terhadap transaksi rinci

3. Periksa tambahan aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi berikut
4. Periksa berkurangnya aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi tersebut
5. Lakukan pemeriksaan pisah batas transaksi aktiva tetap
6. Lakukan review terhadap akun biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap

Pengujian terhadap saldo akun rinci

7. Lakukan inspeksi terhadap aktivat tetap
a. Lakukan inspeksi terhadap tambahan aktiva tetap
b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadi perbedaan
c. Periksa dokumen yang mendukung pembayaran utang usaha seetelah tanggal neraca
8. Periksa bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak
9. Lakukan review terhadap perhitungan depresiasi aktiva tetap

Verifikasi penyajian dan pengungkapan

10. Bandingkan penyajian aktiva tetap dengan Prinsip akuntansi berterima umum
a. Periksa klasifikasi aktiva tetap di neraca
b. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap

Prosedur Pemeriksaan terhadap hutang dagang

Kertas
kerja
Tanggal pelakasanaan
Pelaksanaan
Prosedur Audit Awal

1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun utang usaha yang akan diuji lebih lanjut
a. Usut saldo utang usaha yang tercantum di dalam neraca ke saldo akun utang usaha yang bersangkutan didalam buku besar
b. Hitung kembali saldo akun utang usaha di dalam buku besar
c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun utang usaha
d. Usut saldo awal akun hutang usaha ke kertas kerja tahun yang lalu
e. Usut posting pendebitan akun hutang usaha ke dalam jurnal yang bersangkutan
f.  Lakukan rekonsiliasi akun control utang usaha dalam buku besar ke buku pembantu utang usaha

Prosedur Analitik

2. Lakukan prosedur analitik
a. Hitung ratio berikut ini :
1) Tingkat perputaran utang usaha
2) Ratio utang usaha dengan utang lancar
b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang didasarkan pada data masa lalu, data industri, jumlah yang dianggarkan, atau data lain

Pengujian terhadap saldo akun rinci

7.  Lakukan konfirmasi saldo akun rinci
a. Lakukan identifikasi penjualan besar dengan mereview register bukti kas keluar atau buku pembantu utang, arsip induk utang dan kirimkan konfirmasi kepada kreditur yang akun utang klien kepadanya memiliki karakteristik berikut ini : (1) bersaldo besar, (2) terdapat kegiatan pembelian yang luar biasa, (3) bersaldo kecil atau nol, dan (4) bersaldo debit
b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadi perbedaan
c. Periksa dokumen yang mendukung pembayaran utang usaha setelah tanggal neraca
8. Lakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak di konfirmasi ke pernyataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari kreditur

Verifikasi penyajian dan pengungkapan

9. Bandingkan penyajian utang usaha dengan prinsip akuntansi berterima umum
a. Periksa klasifikasi utang usaha di neraca
b. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha
c. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha non usaha
d. Mintalah informasi dari klien untuk menemukan komitmen yang belum diungkapkan dan utang bersyarat dan periksa penjelasan yang bersangkutan dengan utang tersebut
e. Bandingkan akun biaya dengan akun biaya yang sama tahun lalu atau biaya yang dianggarkan untuk mendapatkan indikasi kemungkinan adanya under statement utang lancer

Pengujian terhadap transaksi rinci

3. Periksa sampel transaksi utang usaha yang tercatat ke dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha
a. Periksa pengendalian akun utang usaha ke dokumen pendukung : bukti kas keluar, laporan penerimaan barang, surat order pembelian, atau dokumen pendukung lain
b. Periksa pendebitan akun usaha ke dokumen pendukung : bukti kas masuk , memo debit untuk retur penjualan
4. Lakukan verifikasi pisah batas (out off) transaksi pembeli
a. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembelian dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca
5. Lakukan verifikasi pisah batas (out off) transaksi pengeluaran kas
a. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembayaran utang usaha dalam minggu terakhir tahun yang di audit dan minggu pertama setelah tanggal neraca
6. Lakukan pencarian utang yang belum dicatat
a.  Periksa bukti yang mendukung transaksi pengeluaran kas yang dicatat setelah tanggal neraca